News

Milanisti Indonesia

Kaleidoskop AC Milan 2020: Penuh Friksi, Kejutan, dan Awal Kejayaan Baru

Categories: AC Milan

Penulis : Muhammad Irfan Prasetyo

Pada laga yang berakhir Kamis (24/12) dini hari WIB itu, Milan sempat unggul 2 gol terlebih dahulu melalui Ante Rebic dan Hakan Calhanoglu sebelum disamakan Lazio lewat gol Luis Alberto dan Ciro Immobile. Namun, di masa injury time, Theo Hernandez berhasil mencetak gol pamungkas memanfaatkan umpan sepak pojok Hakan.
Tak berselang lama, wasit meniup peluit akhir pertandingan. Pemain dan jajaran pelatih Milan yang hadir tumpah ruah di tengah lapangan merayakan kemenangan dramatis itu. Stefano Pioli dan anak asuhnya juga terlihat melakukan selebrasi di depan tribun kosong San Siro.
Apa yang diperlihatkan Milan di laga melawan Lazio adalah buah dari jerih payah manajemen dan pemain selama tahun 2020 yang dikepung pandemi Covid-19. Milan tak akan bisa sekuat ini tanpa mengawali tahun dengan memori kelam dibantai 5-0 oleh Atalanta.
Berbekal memori menyakitkan itu, manajemen Milan membuat gebrakan di bursa transfer musim dingin 2020. Ya, apa yang dicapai Milan saat ini semua bermula dari aktivitas transfernya di bursa transfer musim dingin.    

Winter Transfer 2020, Awal dari Sebuah Perjalanan

Saat itu, Paolo Maldini dan Zvonimir Boban membuat keputusan melepas beberapa pemain sekaligus merekrut pemain senior ke dalam skuad AC Milan. Yang paling mencolok tentu saja bergabung dua pemain senior, Zlatan Ibrahimovic dan Simon Kjaer.

Nada sinis dan pesimisme mencuat usai Milan merekrut dua pemain gaek itu. Wajar, Ibra sudah berusia 39 tahun, sementara Kjaer sudah menginjak usia 30 tahun, sangat jomplang dibanding usia rerata pemain Milan yang ada dikisaran 24 tahun. Banyak yang menilai Milan sudah menyerah dengan mendatangkan dua pemain gaek tersebut.
Namun, siapa sangka, kehadiran Ibra dan Kjaer kontan memberi pengaruh sangat positif baik di dalam dan di luar lapangan. Rossoneri meraih 6 kemenangan, 4 imbang, dan hanya menelan 2 kekalahan dalam 12 laga pasca Ibra dan Kjaer bergabung.
Sayangnya, reuni Ibra dan romansa Kjaer bersama rossoneri tak berjalan mulus begitu saja. Sempat terjadi ketegangan di dalam tubuh manajemen Milan. Ivan Gazidis, selaku CEO dianggap tak menghormati Stefano Pioli yang tengah bertugas selaku allenatore sejak 9 Oktober 2019.    

Friksi yang Berujung Kontrak Permanen untuk Stefano Pioli

Friksi timbul usai Boban mengecap Gazidis sebagai “diktator” dan memprotes tindakan eks CEO Arsenal itu yang dituduhnya telah membuat kontrak dengan Ralf Rangnick sejak bulan Desember 2019 tanpa membicarakannya dulu dengan staff AC Milan lainnya. Rangnick dikabarkan bakal jadi pelatih Milan menggantikan Pioli di akhir musim 2020.

Akhirnya, Boban dipecat dari jabatannya sebagai Chief Football Officer pada 7 Maret 2020. Pemecatan Boban tak membuat suasana tegang di dalam tubuh Milan mereda. Paolo Maldini yang juga terang-terangan mengecam tindakan Gazidis dan menolak Rangnick juga terancam dari posisinya sebagai dirtek rossoneri.
Situasi menjadi runyam kala pandemi Covid-19 memaksa kompetisi Serie A dihentikan mulai 9 Maret 2020. Momen itu terjadi tepat sehari setelah Milan menelan kekalahan dari Genoa di kandang yang membuat suasana dalam tim tambah panas.
Kompetisi di Italia akhirnya dilanjutkan kembali di bulan Juni. Rumor penunjukan Rangnick masih membayangi Pioli yang masih diberi kesempatan hingga akhir musim. Namun, disinilah titik balik Pioli dan skuad AC Milan dibawah komando Ibrahimovic sebagai mentor.

Berlaga di dalam stadion kosong tanpa penonton sepertinya memberi ketenangan kepada para penggawa Milan. Rossoneri justru mencatat rekor impresif, yaitu jadi tim yang tak terkalahkan di Serie A dalam situasi lockdown.

Sejak menang 1-4 atas Lecce pada 22 Juni, Milan perkasa dan menutup musim 2019/2020 dengan kemenangan 3-0 atas Cagliari di giornata pamungkas. Total, Milan memainkan 12 laga sisa Serie A 2019/2020 dengan catatan 9 kemenangan dan 3 hasil imbang.

Hasil yang paling berkesan selama periode itu tentu saja kemenangan atas Juventus pada 7 Juli 2020. Bermain di kandang, Milan tertinggal 2 gol terlebih dulu dari Ronaldo cs sebelum membalasnya dengan 4 gol beruntun. Sebuah kemenangan yang jadi trending topic saat itu dan terus dikenang hingga saat ini.
Singkat cerita, atas hasil positifnya membawa Milan hingga finish di posisi keenam dan lolos ke kualifikasi Liga Europa, Stefano Pioli mendapat kontrak permanen hingga Juni 2022. Peristiwa itu terjadi tepat setelah pengacara Ralf Rangnick menyampaikan batalnya kerja sama kliennya dengan AC Milan dengan alasan waktu yang tidak tepat.

Kebijakan Transfer yang Tepat dan Menang Derby vs Inter setalah Puasa 4 Tahun

Milan akhirnya bisa menatap musim baru 2020/2021 dengan perasaan lega dan semangat baru. Ini tak lepas dari diperpanjangnya kontrak Ibra dan Kjaer serta hubungan antara Gazidis, Maldini, dan jajaran staf manajemen serta direksi yang makin membaik dan se-visi.
Berbekal hasil positif di musim sebelumnya, Milan memperkuat amunisinya dengan merekrut darah muda serta melepas beberapa pemain yang dinilai kurang berkontribusi dan sebagian lainnya dilepas karena punya gaji selangit yang dinilai membebani finansial klub.
Langkah tersebut ternyata tepat. Milan sukses melepas beberapa pemainnya melalui skema peminjaman dan penjualan dengan total pemasukan 49 juta euro. Rossoneri mendapat keuntungan, sebab hanya mengeluarkan biaya tak sampai 28 juta euro untuk membeli dan meminjam beberapa pemain baru di bursa transfer musim panas 2020.   

Dari nama-nama rekrutan baru Milan, sepertinya Jens Petter Hauge jadi pembelian tersukses rossoneri. Bagaimana tidak, Maldini dan Frederic Massara yang memimpin langkah transfer Milan mendapatkan jasa pemain timnas Norwegia itu dengan hanya mengeluarkan dana sebesar 5 juta euro saja.

Transfer Hauge terasa spesial karena Ia direkrut usai tampil apik dan membobol gawang Gianluigi Donnarumma di babak ketiga kualifikasi Liga Europa. Bersama klubnya saat itu, Bodo/Glimt, Hauge menyulitkan Milan untuk lolos ke babak grup Liga Europa.
Namun, ternyata bukan Bodo/Glimt yang jadi lawan terberat bagi Donnarumma cs untuk lolos ke kompetisi Eropa. Adalah Rio Ave yang jadi lawan Milan di babak play-off. Bertandang ke Vila do Conde, Portugal yang masyhur dengan cuaca ekstremnya, Milan susah payah taklukkan Rio Ave lewat babak adu tos-tosan.
Laga lain yang patut dirayakan adalah keberhasilan Milan memenangi derby della madonnina atas rival sekotanya, Inter pada 17 Oktober lalu. 2 gol cepat Zlatan Ibrahimovic di 20 menit awal sudah cukup untuk mengungguli Inter yang hanya sanggup membalas 1 gol lewat Romelu Lukaku.

Bagaimana tak dirayakan, ini adalah kemenangan pertama Milan atas Inter sejak Desember 2017 saat keduanya bertemu di babak perempat final Coppa Italia. Khusus di ajang Serie A, rossoneri terakhir kali mempecundangi nerazzurri pada Januari 2016 saat masih dilatih Sinisa Mihajlovic.  

Kemenangan tersebut juga jadi balasan Milan setelah kalah menyakitkan dari Inter di bulan Februari lalu. Kala itu, rossoneri sudah unggul 2 gol di babak pertama, tapi justru kalah menyakitkan setelah kebobolan 4 gol di babak kedua.
Selepas memenangi laga derby, permainan anak asuh Pioli malah sempat kendor. Puncaknya, rekor kemenangan di semua ajang terhenti usai kalah 3-0 atas Lille di Liga Europa. Kekalahan tersebut jadi kekalahan pertama Milan sejak takluk dari Genoa pada Maret 2020.
Rekor unbeaten Milan di kompetisi Eropa memang sudah terhenti, tapi tidak dengan rekornya di liga. Rossoneri masih unbeaten di Serie A. Kemenangan dramatis atas Lazio jadi bukti teraktualnya.
Usai meraih kemenangan atas Lazio, beredar video yang memperlihatkan Curva Sud -pendukung garis keras Milan- yang mengarak bus Milan tepat setelah mereka keluar dari San Siro. Sebuah perayaan yang dinilai fans tim lain berlebihan.
Namun, bagi milanisti, selebrasi pemain dan pelatih di lapangan usai kalahkan Lazio dan perayaan fans Milan di luar San Siro adalah suatu hal yang wajar. Milan sudah terlalu lama tertidur dan baru tahun 2020 ini membuat catatan bagus lagi.  

Total, Milan mencatat rekor tak terkalahkan selama 26 laga Serie A di tahun 2020 ini. Sebuah catatan impresif yang bahkan jadi yang terbaik di 5 liga top Eropa. Namun, Milan bisa meraih catatan sangar itu lewat perjuangan berdarah-darah.

Dikepung Badai, Mentalitas Juara Milan Tetap Menyala!

Secara bertubi-tubi sejak akhir November hingga pertengahan Desember, rossoneri secara bergantian ditinggal pemain andalannya. Ibra absen selama 8 laga, Kjaer dan Bennacer absen selama 5 laga, serta Rebic, Romagnoli, dan Leao yang absen sebanyak 4 laga.

Ditinggal beberapa pilar penting jelang tutup tahun membuat banyak pihak yang meragukan hasil impresif yang telah Milan raih selama ini. Mereka menilai, rossoneri beruntung karena banyak bertemu lawan mudah di paruh pertama Serie A musim ini dan performa Milan dinilai bakal menurun selama pemain pilarnya absen.
Apapun cibirannya, pada kenyataannya keluarga besar AC Milan dapat menikmati hari raya Natal dan Tahun Baru dengan suka cita. Begitupun dengan milanisti yang bisa tidur nyenyak selama akhir tahun ini sebelum liga kembali dilanjutkan pada awal Januari 2021.

Serie A musim 2020/2021 sudah berjalan 14 pekan. Milan sukses memimpin klasemen sementara di paruh musim berkat raihan 10 kemenangan dan 4 hasil imbang. Rossoneri memuncaki klasemen dengan koleksi 34 poin unggul 1 poin dari Inter.

Kalau ada yang patut diapresiasi paling awal tentu dia adalah Stefano Pioli. Pioli yang nyaris didepak itu justru mendapat anugerah sebagai juru taktik terbaik Italia tahun 2020 oleh majalah La Gazzetta dello Sports.

Sementara itu, di balik layar ada sosok Paolo Maldini sebagai legenda dan Direktur Teknik yang paham betul apa yang dibutuhkan mantan klubnya. Maldini juga ternyata sosok yang pandai bernegosiasi dan meyakinkan pemain muda bertalenta untuk mau bergabung dengan Milan.
Kehadiran Theo Hernandez adalah salah satu bukti kepiawaian Maldini dalam bernegosiasi. Di samping Maldini, ada sosok Geoffrey Moncada sebagai kepala pemandu bakat yang jeli mencium pemain muda potensial semacam Brahim Diaz, Hauge, hingga Kalulu.
Sepertinya, kemampuan Moncada dan Maldini akan kembali diperlihatkan di bursa transfer Januari nanti. Walau masih bisa meraih kemenangan saat Kjaer dan Ibra absen, membeli pemain baru bukan sekadar perlu saja, tapi sudah jadi kebutuhan.
Berdasarkan rumor yang beredar, beberapa nama sudah fix jadi target transfer Milan. Namun, kini manajemen tengah berusaha menyelesaikan perpanjangan kontrak 3 pilar penting rossoneri, yaitu Donnarumma, Hakan, dan Kessie.
Bila ketiganya sudah deal dengan kontrak barunya, lalu ditambah kehadiran amunisi baru yang mampu menguatkan pasukan, bermimpi meraih prestasi di akhir musim agaknya bukan suatu kemustahilan untuk dicapai. Hanya saja, bagi saya pribadi, finish 4 besar dan kembali mendengar anthem Liga Champions bergemuruh di San Siro musim depan sudahlah cukup.
Jika tahun 2020 jadi tahun sial bagi banyak pihak, pendukung setia AC Milan justru mendapat kado manis sepanjang tahun ini. Hanya saja, ini barulah awal. Tantangan terberat ada di paruh kedua dan Milan tak boleh lengah apalagi jumawa.
Ayo menang terus sampai juara Milan! Forza Milan!

Sekian.
@IrfanPras

Karya tulis ini pernah di muat di Kompasiana, 26 Desember 2020. Kami publish di website Milanisti Indonesia atas seizin penulisnya
https://www.kompasiana.com/amp/irfanpras/5fe68ea6d541df7d0e475f53/kaleidoskop-ac-milan-2020-penuh-friksi-kejutan-dan-awal-kejayaan-baru

Author: RIfky Kahfi