News

Milanisti Indonesia

Lima Hal yang Dapat Dipetik dari Derby Della Madonnina 17 Maret 2019

Categories: Umum

Derby Della Madonnina kedua pada musim 2018/2019 telah usai ketika wasit Marco Guida membunyikan peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Kemenangan diraih oleh FC Internazionale Milano, tim lawan yang justru di atas kertas tidak diunggulkan. Meski tengah mengalami persoalan internal dan didahului hasil-hasil kurang memuaskan, nyatanya I Nerazzurri membuktikan bahwa derbi tetaplah derbi, di mana performa terkini tim dan kondisi fisik tidak dapat dijadikan faktor penentu.

Berikut ini lima hal yang dapat diambil dari pertandingan tersebut:

  1. Zona Liga Champions Masih Realistis

Kekalahan yang didapat dari tim rival sekota memang menyesakkan. Terlebih, andaikata Milan memenangkan pertandingan, posisi ketiga akan semakin mantap digenggam dengan keunggulan empat angka. Kenyataannya, Inter malah menyalip Milan di klasemen sementara dengan keunggulan dua angka.

Akan tetapi, kekalahan ini hanyalah bernilai kehilangan tiga angka. Tidak perlu diratapi dan terlalu khawatir bahwa kekalahan ini akan menjatuhkan mental bertanding penggawa I Rossoneri pada sepuluh pertandingan tersisa. Milan masih menduduki posisi keempat dengan keunggulan empat poin atas AS Roma yang menduduki peringkat kelima sementara ini.

Mungkin yang sedikit perlu dikhawatirkan adalah kiprah Lazio. Lawan Milan pada babak semifinal Coppa Italia ini memang masih berjarak enam angka di posisi ketujuh, namun secara virtual, selisih poin Milan dengan Biancoceleste tinggal tiga angka karena mereka menyimpan satu pertandingan melawan Udinese. Dengan demikian, laga Milan menjamu Lazio yang berlangsung bulan depan boleh jadi akan sangat menentukan.

Perebutan zona Liga Champions tentu masih realistis untuk dimenangkan meski jadwal Milan pada sepuluh pertandingan terakhir ini tidak ringan. Pada laga tandang, Milan masih harus menghadapi Sampdoria pekan depan, Juventus (6/4), Torino (28/4), dan Fiorentina (12/5). Di luar pertandingan-pertandingan ini, Milan semestinya dapat meraup tiga poin penuh.

  1. Samu Castillejo Layak Bermain Lebih Banyak

Samuel “Samu” Castillejo lebih sering berada di bawah bayang-bayang Suso Fernandez, kompatriotnya. Pada awal musim, penampilan pemain yang didatangkan dari Villareal ini terlihat kurang efektif ketika bermain di sisi sayap. Namun perlahan tapi pasti Castillejo mulai dapat beradaptasi dengan sepak bola Italia.

Pemain bernomor punggung tujuh ini mulai tampil mengesankan, dan hal ini dimulai ketika ia dipercaya merumput sejak menit pertama dalam pertandingan melawan Empoli, Februari lalu. Ketika itu, ia menggantikan Suso yang terkena larangan bermain. Pemain berusia 24 tahun ini memanfaatkan betul kesempatan langka yang dimilikinya. Selain mencetak sebuah gol cantik memanfaatkan umpan silang Andrea Conti, Castillejo juga terlibat dalam seluruh proses gol yang tercipta ke gawang Empoli.

Setelah laga itu, Castillejo memang kembali memulai pertandingan di belakang Suso atau Hakan Calhanoglu, namun ketika dimainkan, dengan kecepatan dan skill yang dimilikinya, ia kerap membongkar pertahanan kokoh lawan. Dalam Derby Della Madonnina, Castillejo memang melakukan kesalahan ketika ia mengganjal Matteo Politano hingga berbuah hukuman penalti, namun di luar itu, ia menjadikan permainan Milan lebih cepat dan bertenaga hingga membuka pertahanan disiplin Inter. Meski tidak terlibat langsung dalam gol-gol yang dicetak Tiemoue Bakayoko dan Mateo Musacchio, namun kehadirannya di sisi kiri permainan membuat Danilo D’Ambrosio tidak nyaman untuk naik membantu serangan, sekaligus memaksa Politano sering melakukan track back, hingga akhirnya digantikan Antonio Candreva.

  1. Riak Terkuak di Ruang Ganti Adalah Hal Normal

Tidak ada tim dengan suasana ruang ganti yang sempurna, termasuk Milan yang sebelumnya diberitakan mempunyai ruang ganti yang begitu terkendali dan seluruh anggota tim yang begitu kompak di bawah arahan pelatih Gennaro Gattuso. Tak disangka, sebuah insiden yang kurang mengenakkan terjadi di bangku cadangan saat Franck Kessie ditarik keluar pada pertengahan babak kedua.

Merasa masih mampu berkontribusi di pertandingan dan terprovokasi adanya dugaan hinaan rasialis dari beberapa oknum pendukung lawan, Kessie terlihat kesal ketika diganti, dan pada saat bersamaan, Lucas Biglia, pemain senior yang tidak dimainkan, mengatakan sesuatu yang agaknya membuat Kessie makin kesal. Situasi ini membuat beberapa rekan semisal Fabio Borini dan Ricardo Rodriguez terlihat berupaya menenangkan Kessie, sementara Diego Laxalt sibuk menenangkan Biglia.

Gattuso bereaksi keras terhadap insiden ini, dan ia tidak menutupi kekecewaannya dengan berbicara secara gamblang kepada pers seraya menyebut kekalahan ini terasa dobel ketika dibarengi insiden pertengkaran anggota tim yang tertangkap kamera.

Untungnya, kedua pemain telah meminta maaf secara publik, dan menegaskan bahwa insiden ini tidak lebih dari pengaruh intensitas pertendingan yang amat tinggi hingga membuat adrenalin memuncak. Ini tentu saja sebuah hal normal yang tidak perlu dibesar-besarkan.

  1. Kekalahan Ini Adalah Alarm yang Terkonfirmasi

Milan memang membekali derbi dengan lima kemenangan beruntun, di mana salah satunya berperan dalam mendongkel posisi Inter di tangga ketiga klasemen sementara. Tetapi patut dicermati bahwa dalam dua laga sebelum derbi, yaitu melawan Sassuolo dan Chievo Verona, Milan meraih kemenangan dengan permainan yang jauh dari kata mengesankan. Sebuah alarm peringatan yang sayangnya tidak disadari karena euforia kemenangan yang lebih terasa.

Melawan Sassuolo yang diperkuat 10 pemain sejak menit 60, Milan malah didominasi anak asuhan Roberto De Zerbi itu. Calhanoglu dan kolega tidak mampu menambah keunggulan setelah Pol Lirola membuat gol bunuh diri pada babak pertama. Lalu ketika berhadapan dengan Chievo, tim juru kunci yang secara statistik merupakan tim yang paling bekerja keras, terbukti dengan capaian jarak lari terbanyak di antara seluruh kesebelasan, Milan terlihat begitu susah payah mengambil tiga angka di stadion Marc’Antonio Bentegodi.

Penyakit yang terlihat pada putaran pertama kompetisi, yaitu sulitnya para pemain mengalirkan bola di daerah final third, terlihat betul pada laga ini. Minimnya suplai bola kepada Krzysztof Piatek menjadikan penyerang Polandia ini begitu terkucil, meski ia tetap dapat mengandalkan naluri alamiahnya sebagai penyerang tajam dengan sumbangan sebuah gol.

Dalam laga derbi, Piatek betul-betul diborgol oleh Skriniar, dan aliran bola kepadanya telah dipotong oleh De Vrij. Lucas Paqueta juga terlihat kurang efektif, mungkin karena ia teramat kelelahan ketika terus bermain sejak datang dari Flamengo pada bulan Januari. Ricardo Rodriguez yang menjadi rekannya di sisi kiri lapangan pun sedang tidak menjalani hari terbaiknya ketika ia juga sering kehilangan bola. Inter memanfaatkan betul ruang yang tercipta di antara dua pemain ini, di mana D’Ambrosio dan Politano begitu merajalela, dan Matias Vecino begitu lihai menemukan celah kosong di kotak penalti untuk menyokong Lautaro Martinez.

  1. Gattuso Memiliki Alternatif Taktik Menarik

Dikritik sebagai pelatih kurang kreatif yang gemar bermain defensif dan begitu mementingkan fase bertahan, Gattuso membuktikan bahwa ia sebetulnya mampu untuk bermain menyerang dan sedikit oportunis. Ya, ketika alur serangan Gattuso sebelumnya amat terbaca dan mudah ditebak dan formasi bermainnya tidak jauh dari 4-3-3 dan variannya, pada babak kedua laga derbi, Gattuso membuat keputusan yang cukup mengejutkan ketika ia mengganti bek kiri Rodruguez dengan Patrick Cutrone yang notabene seorang penyerang.

Sebelumnya, Gattuso sendiri yang pernah berkata bahwa ia tidak bisa memainkan Cutrone dan Piatek secara bersamaan karena membuat tim jadi tidak seimbang. Nyatanya, pola 4-4-2 yang akhirnya digunakannya, mungkin karena terdesak dan harus mengejar defisit dua gol, ternyata bekerja cukup baik untuk menekan balik Inter yang sebelumnya amat dominan di lini tengah dan sayap. Keputusan Gattuso untuk menaruh Davide Calabria di sisi kiri dan memasukkan Andrea Conti menjadi kuncinya.

Milan berbalik unggul dalam fase permainan sayap setelah Gattuso menggelar taktik alternatif ini. Kehadiran Conti membuka penjagaan Kwadwo Asamoah terhadap Suso, hingga ruang bagi sang pemain begitu terbuka dalam melancarkan umpan-umpan silang. Hal ini juga membuat Ivan Perisic tidak lagi leluasa mengacak-acak sisi kanan pertahanan Milan karena Asamoah membutuhkan bantuannya di belakang. Serangkaian kekacauan yang dibuat oleh para pemain sayap Milan akhirnya membongkar belenggu kokoh Skriniar dan De Vrij, di mana dua gol berhasil disarangkan dari situasi bola mati, satu melalui tendangan bebas Calhanoglu dan satu lagi selepas tendangan penjuru. Milan pun mampu membalikkan narasi, dari chaos menjadi kontrol dan dominasi, yang sayangnya baru berlangsung pada 20 menit terakhir, di mana semuanya sudah terlambat.

Author: Adit

2 Responses to "Lima Hal yang Dapat Dipetik dari Derby Della Madonnina 17 Maret 2019"

  1. Fajar bass
    Fajar bass Posted on 19th March 2019 at 18:45

    Menurut ane min..gatusso sering maksain hakan calhanoglu..padahal under perform,.kemarin malah paqueta d tarik keluar..paqueta bagus dalam menahan bola dan membongkar pertahanan lawan..terus conti harus lebih sering jadi starter..gak bermaksud sok keminter ,.hanya pendapat fans murni 🙌🙌🙏🙏

  2. Putranto
    Putranto Posted on 19th March 2019 at 18:52

    Artikel yg benar benar bagus. FORZA MILAN